Skip ke Konten

Cara Memulai Brand Skincare dengan Pasar dan Produk yang Jelas

Saat ingin membuat brand skincare, Anda mungkin langsung mencari formula, kemasan, atau harga maklon. Namun, bagaimana membandingkan penawaran jika produk yang ingin dibuat masih sebatas “serum yang bagus” atau “pelembap untuk semua orang”?

Cara memulai brand skincare yang bisa Anda lakukan adalah memperjelas calon pembeli, kebutuhan mereka, dan alasan memilih produk Anda. Tiga hal ini menjadi dasar untuk membahas pengembangan bersama mitra manufaktur. Berikut lima langkah untuk menyiapkannya.


1. Tentukan siapa yang ingin Anda layani

Mulailah dari kelompok pembeli yang bisa Anda jelaskan dengan konkret. Usia dan jenis kelamin membantu, tetapi tambahkan situasi pemakaian, kebiasaan belanja, serta hal yang paling mereka pertimbangkan saat memilih skincare.

Sebagai contoh ilustratif, bayangkan calon brand untuk pekerja yang sering merasa kulitnya kering saat berada di ruangan berpendingin. Mereka ingin pelembap yang nyaman digunakan sebelum makeup. Dari situ, Anda punya pertanyaan yang lebih terarah: tekstur apa yang mereka sukai, produk apa yang digunakan sekarang, dan mengapa mereka ingin menggantinya?

2 Periksa kebutuhan lewat percakapan dan ulasan

Gunakan dugaan tadi sebagai pertanyaan riset. Ajak calon pembeli menceritakan pengalaman terakhir mereka memilih atau mengganti produk. Tanyakan apa yang disukai, apa yang mengecewakan, dan berapa harga produk yang biasa dibeli. Hindari hanya bertanya, “Kalau ada produk seperti ini, mau beli?”

Lengkapi percakapan dengan membaca ulasan produk sejenis. Catat keluhan yang berulang dan konteksnya. Jika muncul keluhan tentang rasa lengket, periksa kapan produk dipakai dan pengalaman seperti apa yang diharapkan. Gabungan riset langsung serta sumber yang sudah tersedia dapat membantu memperjelas kebutuhan, harga alternatif, dan persaingan.
Respons positif dari beberapa orang masih merupakan petunjuk awal. Gunakan untuk memperbaiki konsep; jangan langsung menganggapnya sebagai kepastian penjualan. 

3. Terjemahkan kebutuhan menjadi arah produk

Pada contoh pelembap tadi, arah awalnya bisa berupa produk untuk membantu melembapkan, dengan tekstur yang diharapkan nyaman sebelum makeup. Arah ini lebih mudah dibahas daripada permintaan “buatkan moisturizer premium”. Tim pengembangan dapat menilai pilihan formula dan mengevaluasi apakah pengalaman pemakaiannya sesuai.

Pilih manfaat utama dan karakter pemakaian yang ingin diprioritaskan. Setelah itu, pertimbangkan produk pertama yang paling sesuai. Satu produk maupun satu rangkaian tetap membutuhkan alasan bisnis yang jelas, termasuk kemampuan Anda menjelaskan kegunaan setiap produk kepada calon pembeli.

Pisahkan manfaat yang dituju dari klaim hasil yang sudah terbukti. Klaim kosmetik perlu memiliki data dukung yang relevan; jangan menjanjikan hasil atau durasi tertentu hanya karena tercantum pada referensi produk. 

4. Selaraskan harga jual kanal penjualan dan modal

Tentukan kisaran harga jual yang ingin Anda uji, lalu pilih kanal penjualan awal. Produk yang dipasarkan melalui marketplace, reseller, atau penjualan langsung perlu dihitung dengan komponen biaya sesuai kanalnya, seperti biaya platform, komisi, promosi, dan pengiriman yang ditanggung brand.

Dari sana, diskusikan kisaran biaya produk yang memungkinkan. Harga produksi per unit belum menggambarkan seluruh kebutuhan dana. Siapkan ruang untuk pengembangan, kemasan, kebutuhan legalitas, peluncuran, dan operasional sesuai cakupan proyek.

Saat membahas MOQ, yaitu minimum jumlah pemesanan, tanyakan apakah ketentuannya berlaku per produk, varian, atau kemasan. Bandingkan dengan rencana penjualan dan dana yang bisa tertahan sebagai stok. Hindari memilih jumlah produksi hanya karena harga per unit terlihat lebih rendah.
 
5. Bawa ringkasan konsep saat konsultasi maklon 

Anda tidak harus memahami seluruh detail formulasi sebelum berkonsultasi. Siapkan ringkasan satu halaman berisi:

  • Calon pembeli dan situasi pemakaian produk.
  • Kebutuhan utama beserta temuan awal dari percakapan atau ulasan.
  • Kategori produk, manfaat yang dituju, dan karakter tekstur yang diharapkan.
  • Kisaran harga jual dan kanal penjualan awal.
  • Anggaran proyek, gambaran jumlah awal, dan target peluncuran untuk didiskusikan.
  • Referensi produk serta bagian yang disukai atau ingin dibedakan.

Ringkasan ini menjadi bahan awal product brief, yaitu dokumen kebutuhan produk. Tandai mana yang sudah didukung temuan dan mana yang masih berupa asumsi. Dengan begitu, diskusi dapat berfokus pada pilihan yang perlu diuji, batas anggaran, serta keputusan berikutnya.

Sudah memiliki gambaran calon pembeli dan produk pertama? Hubungi tim Tecno Glow Innovation untuk mendiskusikan kebutuhan pengembangan brand Anda.


Referensi

​U.S. Small Business Administration. Plan your business — Market research and ​ ​competitive analysis. Acuan metode riset pasar, bukan data pasar skincare ​​Indonesia.

BPOM. Q dan A Sosialisasi Penandaan Promosi dan Iklan Kosmetik. Pertanyaan 1 tentang relevansi data dukung klaim.

Cara Memulai Brand Skincare dengan Pasar dan Produk yang Jelas
Diva 26 Oktober 2026
Share post ini
Label
Arsip
WA icon

Tecnoglow Innovation

Hai! Klik salah satu anggota kami di bawah ini untuk mengobrol di WhatsApp

Tim biasanya membalas dalam beberapa menit

WA icon
Ligaya
Sales Support
icon